Monday, October 10, 2016

BUAYA BUNTUNG DI SITU KAMOJING (Legenda Situ Kamojing Cikampek Kab.Karawang) Untuk warga Karawang dan Purwakarta, Situ Kamojing adalah tempat yang cukup eksotis yang berada di perbatasan kedua kabupaten ini. Terletak di Kecamatan Cikampek, Desa Kamojing, situ ini menawarkan pesona alam dan potensi wisata yang menjanjikan. Situ Kamojing yang memiliki luas sekitar 5 hektare, di musim hujan seperti saat banjir kamarin, air situ bahkan bisa meluber keatas jalan, namun di musim kemarau parah air situ sebaliknya bisa jadi kering dan saat itu sering juga dimanfaatkan warga setempat untuk dijadikan lahan bercocok tanam.Jika dilihat dari stuktur dan infrastuktur yang ada, situ ini sangat biasa, bahkan belum menjadi tempat wisata karena itulah tidak ada pengelolaannya, apalagi tiket masuk. Namun, hal itulah yang menjadi kelebihan lainnya. Sifatnya yang alami, malah menarik khususnya muda-mudi untuk memadati tepian situ, dari mulai aktivitas olahraga, bercengkrama, hingga tempat berpacaran ria. Apalagi di sore hari, saat-saat menjelang matahari terbenam yang menawarkan pantulan sinar matahari yang maha indah di permukaan situ.Selain hamparan situ yang dapat dinikmati secara cuma-cuma, ditempat ini para pengunjung pun bisa menyantap jajanan yang dijajakan para pedagang disana yang belum begitu banyak. Menurut ketua RW setempat dan salah seorang pedagang yang juga warga asli sana, konon situ ini dikenal dihuni oleh Buaya Buntung. Sebuah mitos yang mengakar di masyarakat setempat yang kebenarannya tentunya tidak bisa dicerna dengan akal sehat. Namun, menjadi sebuah tanda bahwa di daerah ini memang hal-hal yang bersifat buhun dan bahkan mistis begitu kental. Tapi lagi-lagi hanya berdasarkan cerita lisan dari mulut ke mulut. Menurut keterangan Kosim, ketua RW setempat, rencananya di tahun 2010-2011 mendatang situ ini akan dibangun seperti halnya Situ Buled di Purwakarta. Setidaknya, dibanding dulu saat ini pun pengelolaan situ ini sudah mulai dilakukan dengan menempatkan seorang petugas resmi dari kecamatan, untuk merawat situ ini terutama dari rumput liar dan mengalirkan pintu air yang mengarah ke arah Ciranggon dan Rawamerta. Kedalaman situ ini berkisar antara 14 hingga 10 meter. Sayangnya memang disana tidak ada keterangan tentang kedalaman ini. Alhasil, seperti yang diungkapkan Kosim, situ ini tiap tahunnya selalu menelan korban jiwa 1-2 orang, yang rata-rata adalah pelajar yang berenang sepulang sekolah di tepian situ. Korban yang disatu sisi diyakini berkaitan dengan Mitos Buaya Buntung, namun disisi lain secara akal sehat adalah hal yang wajar dikala situ ini memang memiliki kedalaman hingga 14 meter. Khusus di malam minggu, waktu dimana muda-mudi baik dari Karawang maupun Purwakarta rata-rata membutuhkan tempat yang enjoy, keramain situ ini seperti yang dikatakan oleh Ucup, penjual sate maranggi, bisa sampai pukul 1 hingga pukul 2 dini hari. Sebuah tempat yang nyaman untuk bersantai, murah meriah dan tentunya memiliki pesona yang alami. Alur sejarah mungkin tak akan selesai ditelusuri sama halnya dengan mengalirnya air sungai, tapi itulah sekilas pintas adanya aliran sungai dari pintu air Situ Kamojing yang mengarah ke sungai Ciranggon dan Rawamerta yang menoreh legenda rakyat Karawang. Dahulu, sungai Kamojing airnya jernih, tenang dan lebar sekali. Oleh penduduk sekitarnya Situ kamojing menjadi tumpuan hajat hidup; sebagai tempat berenang, mencuci serta terkenal sebagai tempat mencari ikan. Tiap pagi terdengar suara tawa gembira anak manusia. Mereka bukan penduduk di dekat sungai, tetapi bertempat tinggal jauh yang sengaja ke sungai untuk mandi, mencuci dan bermain air. Dipinggir kali terdapat mushola dan sebuah rumah. Oleh karena itulah sepanjang hari orang-orang sangat menyukai ke Situ Kamojing, terutama penduduk yang ingin mandi sekaligus melakukan shalat dzuhur atau ashar. Penduduk sekitarnya mengenal sekali Ki Amo pemilik rumah itu. Sebenarnya dua bangunan itu belum layak dibilang rumah maupun mushola, sebab hanya rangkaian sederhana kayu dan bambu yang dilapisi bilik dan bagian bawahnya ditopang beberapa buah batu persegi berukuran kira-kira 30 x 60 cm2. Kakek – nenek penghuni bangunan panggung tersebut nampaknya hidup rukun dan damai, terutama sifat Ki Amo yang dikenal pendiam dan penyabar. Namun sebaliknya, isterinya memiliki sifat cerewet, pemarah, ketus dan selalu mengeluh sehingga antara si kakek dan si nenek sifatnya kontras sekali. Kendatipun demikian rumah tangganya tetap rukun. .Ki Amo pekerjaannya sebagai penebang pohon. Sedangkan usaha semacam itu tidak setiap hari menghasilkan uang untuk keperluan rumah tangganya. Sebab walaupun ia telah menelusuri perkampungan, tidak seminggu sekali ia dapatkan orang menggunakan jasanya. Namun si kakek tetap tawakkal, setiap hari menelusuri perkampungan sambil membawa peralatan penebangan yang seolah-olah telah menjadi teman akrab dalam kewajibannya mencari nafkah. Suatu hari selepas senja, Ki Amo tengah melepas lelah. Nampaknya ia benar-benar ingin menikmati istirahatnya. Segelas kopi, ubi rebus sekali-kali isapan rokok kawung, membuat ia terlena. Dari celah-celah bilik terdengar samar istrinya membaca sesuatu. Tetapi walaupun suara itu samar berbaur dengan suara riak air Sungai Kamojing, si kakek dapat mendengar bahwa istrinya tengah berdoa. Doa yang sering ia dengar, bahkan ia mengerti sekali maksudnya. Seketika itu, pikiran si kakek menerawang, menghubungkan doa istrinya dengan kenyataan hidup yang bdihadapi. Ada perasaan sedih, haru dan pasrah. Dilain pihak semilir angin senja memainkan dedaunan, udara dingin dan segar, memaku kulit keriput, Ki Amo tetap melekat di atas balai bambu. Suasana itu tak berlangsung lama, karena kehadiran si Nini menggugah kesendirian Ki Amo. “Ki ! “ ujar istrinya memecah keheningan suasana, kapan yah kita punya anak?. Keluh Ni Icih sambil bergerak mendekat dan turut melonjorkan kakinya disebelah suaminya. “Ah.....nini” gumam Ki Amo pendek dan nadanya lemah bagai tidak semangat menimpali keluhan istrinya. “Ki...! “, kata Ni Icih lagi, sejak lama kita ingin mempunyai anak, saya telah berusaha mencari dukun, berobat dan bahkan tidak pernah putus berdoa, tapi ternyata sampai setua ini kita belum juga mempunyai anak”.Ki Amo diam tidak menanggapi. Hanya dari cekung bola matanya berkaca-kaca, seperti isyarat bahwa ia tak mampu menerima keluhan istrinya. Suasana hening. Keduanya membisu, yang terdengar hanya desiran angin menerpa rambut si nenek yang mulai memutih. Keduanya diam terpana. Alam pikiran nenek dan kakek itu seolah tidak mengerti kenyataan hidup yang dihadapi. Perasaan bingung, pasrah, iri dan benci menyelimuti keluarga itu. Keinginan memiliki anak, sudah tidak terhitung Ni Icih ungkapkan. Dari sejak mulai menikah, berkeluarga sampai menjelang masa udzur, ia terus mengharapkan anugrah seorang anak, dua orang anak bahkan banyak anak. Suaminya bukan tidak menyambut keinginan istrinya, tetapi ia tetap menggantungkan harapannya kepada Illahi Robbi. Sebab ia berkeyakinan, apabila Tuhan tidak menghendaki, apapun tidak akan terjadi. Apalagi mempunyai anak keturunan merupakan kepercayaan dan sebagai titipan dari Allah SWT, begitulah ia berkesimpulan. Lain halnya dengan Ni Icih, ia ingin hamil, ingin mempunyai anak. Dari waktu ke waktu harapan menjadi seorang ibu terus membayanginya, meskipun menyadari bahwa fisiknya mulai lemah, tua renta, tetapi keinginannya terus menggebu. Obat, jampi-jampi dan pepatah orang telah ia lakukan. Dari semua cara itu ternyata belum nampak tanda perubahan apapun. Oleh karena itulah ia mulai goncang. Kesabarannya mulai memudar. Hari-hari yang dilaluinya tanpa kedamaian. Tingkah laku Ni Icih sering kali berubah kasar, bahkan tutur katanya berubah sombong, penuh serapah dan takabur. Tentu saja perubahan sifat Ni Icih sangat dimaklumi suaminya. Namun Allah SWT Maha Mendengar, Maha Mengetahui dan Maha Melihat tingkah laku suami istri itu. Oleh karena itu kapanpun Allah SWT menghendaki, dengan kalimat Kun Fayakun...........maka jadilah. Seperti yang terjadi pada Ni Icih, ketika ia bangun pagi, perutnya terasa mual ingin muntah. Begitu pula esok harinya sama dengan hari kemarin, terasa mual mau muntah. Akhirnya “penyakit pagi” itu menyerangnya beberapa hari berturut-turut. Nafsu makanpun tak ada, ternyata setelah diselidiki oleh paraji, Ni Icih mengidam dan mulai mengandung. Tentu saja keterangan paraji membuat keluarga terpencil itu seolah menemukan semangat hidup. Dari hari ke hari mereka lalui penuh kebahagiaan. Ki Amo lebih bersemangat mencari nafkah sebagai penebang pohon, kadang-kadang menjadi buruh atau pencari rumput. Dan istrinya sudah tidak lagi terlihat murung maupun mengeluh. Waktu terus bergulir, kedua suami istri itu telah menyiapkan kehadiran seorang bayi. Calon ibu itu juga merasa bangga sekali apabila orang menanyakan berapa bulan kandungannya. Kemudian ia pula akan menceritakan awal kehamilannya, mimpi-mimpi, cara bergerak bayi dan lain sebagainya. Rupanya ada kebanggaan tersendiri bagi yang hamil untuk menceritakan hal itu. Sebelumnya, setiap pagi wajah perempuan yang mulai keriput itu suka ingin sekali memandang kegembiraan anak-anak berenang, ia ingin memandikan, ia ingin memanjakan dengan penuh kasih sayang. Tetapi setelah ia mengandung keinginan itu seperti sirna. Ia lebih banyak memikirkan rencana untuk melahirkan. Hari ke hari menjadi bulan terus melaju, seperti derasnya air mengalir sungai Kamojing. Perut Ni Icih kian hari semakin membesar, namun Ni Icih dan Ki Amo tidak tahu bayi laki-laki atau perempuan anaknya kelak. Dalam kandungan Ni Icih sama halnya dengan misteri didalam Situ Kamojing, entah apa. Ketika saatnya telah mencapai sembilan bulan lebih, barulah teka-teki keluarga itu dapat terjawab, dan pertama kali diketahui oleh Ma Iroh. Dinginnya udara malam makin bertambah menggigil tubuh Ma Iroh, sebab selama ia menyandang profesi dukun beranak (paraji), baru malam itu kedua tangannya mengangkat bentuk bayi yang aneh. Wujudnya seperti tokek, hanya tidak bersisik. Tidak ada suara jerit tangis bayi, yang terdengar hanya suara Ma Iroh dan Ki Amo yang tak henti-hentinya memuji kebesaran nama Allah. Pada malam itu Allah telah menunjukkan kekuasaan-Nya. Ki Amo maupun Ma Iroh, tidak dapat berbuat apa-apa bahkan pasti seluruh manusia di dunia tidak bisa berbuat apapun. Kecuali ia pasrah kepada yang Maha Kuasa, bahkan ia telah di beri karunia seorang bayi berbentuk lain. Sementara itu waktu telah cepat menggiring malam, dan tak lama kemudian malam berada pada puncaknya. Setetes embun pun jatuh menyertai bunyi kokok ayam yang menandakan malam akan segera berakhir. Butir-butir embun telah membasahi permukaan bumi. Sama halnya dengan Ni Icih pipinya basah lebab karena ia menangis sepanjang malam. Ketika fajar mengusir malam, Ma Iroh beranjak pulang meninggalkan Ni Icih dan Ki Amo yang dirundung bingung. Sanak sodaranya datang menengok, dan hampir seluruh pengunjung berucap lirih menyebut kebesaran Allah. Satu dua orang berlalu, tetapi terus berganti pengunjung yang lain. Sehingga berita Ni Icih melahirkan menjadi gegar penduduk kampung sekitarnya. Hari pertama Ni Icih lalui penuh nasihat dan saran dari para pengunjung. Agar Ni Icih tetap sabar, tabah, tawakal dan pasrah. Mendengar nasihat pelayat Ni Icih maupun Ki Amo menyadari sepenuhnya takdir Allah SWT. Keduanya diam membisu dan lemas bagai tak bertenaga. Terutama Ni Icih rasakan fisik lemah bercampur kantuk menyebabkan ia tertidur pulas. Rumah bilik milik Ni Icih – Ki Amo mulai lengang. Beberapa orang keluarga dekat masih setia menemani Ni Icih yang tengah tidur nyenyak. Sementara itu bayi yang baru dilahirkan masih tetap dibungkus kain panjang. Ia nampak masih berkulit merah dan belum bergerak-gerak. Tetapi setelah beberapa hari, barulah bayi itu mulai menggeliat. Suatu malam orang tuanya bermimpi, bahwa bayi yang baru dilahirkan minta disimpan dalam paso ( bak air yang di buat dari bahan tanah liat / kayu) Suara dalam mimpi juga berpesan agar bapak – ibunya tidak usah sedih, karena sudah merupakan suratan takdir. Pada siang harinya Ni Icih dan Ki Amo saling menceritakan perihal mimpinya, ternyata keduanya bermimpi yang sama. Kemudian hari yang ketujuh, Ni Icih dan Ki Amo mimpi kembali ; si bayi minta dilepaskan ke sungai Kamojing. Namun sebelumnya ia juga mohon diberi tanda dengan cara buntut / ekornya dipotong. Selain itu pula si bayi memberi petunjuk ; apabila orang tuanya rindu atau memerlukan bantuan agar memanggil nama anaknya dengan sebutan “si Buntung “. Walau Ki Amo diliputi perasaan sayang, sedih dan tidak tega, tetapi setelah mereka bersepakat akhirnya pesan-pesan mimpi ia lakukan jua. Sambil tak henti-hentinya mengagungkan kebesaran nama Allah SWT, tangan ki Amo meraup anaknya dari dalam paso yang berair. Sedangkan tangan lainnya memegang pisau tajam. Dalam waktu sekejap kedua tangan ki Amo bergerak, maka terputuslah bagian ekor dari tubuh bayi itu. Jadilah anaknya bernama “Si Buntung”. Diiringi isak tangis dan dan deraian air mata Ni Icih dan Ki Amo, perlahan-lahan si buntung di lepas ke sungai Kamojing. Kemudian ia bergerak-gerak seperti berenang. Dan lama-kelamaan, akhirnya seperti menyelam, lalu menghilang sama sekali dari pandangan kedua orang tuanya. Dari sejak peristiwa itu, hubungan anak dengan orang tuanya dilakukan melalui mimpi atau panggilan. Sebagaimana layaknya seorang ibu yang selalu ingin mencurahkan perasaan kasih sayang terhadap anaknya, Ni Icih pun dapat melakukannya walaupun hanya melalui hubungan batin atau impian. Dalam mimpi, yang terlihat adalah wujud seorang anak laki-laki. Tidak ada perbedaan fisik dengan anak manusia normal lainnya. Oleh karena itulah bagi Ki Amo maupun istrinya tidak merasa sedih berkepanjangan, malah sebaliknya membuat mereka merasa memiliki sesuatu keistimewaan. Perjalanan waktu terus berputar, seiring dengan perkembangan usia maupun fisik anaknya yang bernama Si Buntung. Dalam pandangan mata kedua orang tuanya, tidak pernah si buntung menampakkan wujudnya sebagai buaya yang menakutkan. Ia tetap memperlihatkan dirinya seorang anak laki-laki yang lucu dan senang berpakaian serba putih dan berkopiah. Tempat bermainnya pun seperti tidak pernah jauh dari rumah itu, dan bahkan terkesan seperti selalu mengikuti kemanapun orang tuanya melangkah pergi. Dan dalam pandangan mimpi kedua orang tuanya, postur tubuh Si buntung berubah-ubah membesar sebagaimana tubuh anak yang meningkat usianya.Memang bagi penduduk yang pernah melihat si buntung berupa buaya, tetapi ia bukan buaya sembarangan. Sesuai pesan Ki Amo kepada penduduk apabila menjumpai buaya cukup mengatakan : “ Buntung jangan mengganggu “, maka iapun akan mengerti. Hal itu seperti yang dialami oleh saudaranya, ketika hendak ke sungai. Ia melihat seekor buaya, kemudian ia mengatakan “ Buntung, jangan disini kalau mau berjemur. Disana tuh”, sambil menunjuk ke sawah diseberang sungai. Maka seketka itu pula buaya tersebut menghilang. Tak lama kemudian diseberang sungai terlihat seorang laki-laki yang berpakaian putih sedang duduk di pematang sawah. Ditengah persawahan itu pula si buntung pernah mengalahkan buaya tamu. Ia mengetahui setiap buaya telah menganiaya / memangsa manusia, akan disingkirkan dari kelompoknya. Sama halnya dengan buaya asing yang datang ke Situ Kamojing, ia tidak disukai si buntung. Selama beberapa saat terjadi pertarungan antara buaya asing dengan si buntung, tetapi si buntung yang dikenal sebagai bukan buaya sembarangan dengan mudah dapat mengalahkan. Dan ternyata si buntung tidak hanya menghuni sungai Kamojing saja, tetapi ia juga suka berkelana ke Ciranggon, Rawamerta , bahkan menurut informasi sampai ke Citarum. Sejak saat itulah Situ Kamojing tiap tahunnya selalu menelan korban jiwa 1-2 orang, yang rata-rata adalah pelajar yang berenang sepulang sekolah di tepian situ. Korban yang disatu sisi diyakini berkaitan dengan Mitos Buaya Buntung, namun disisi lain secara akal sehat adalah hal yang wajar dikala situ ini memang memiliki kedalaman hingga 14 meter. Kini keperkasaan, kemasyuran dan keanehan kisah si Buntung telah sirna ditelan masa. Bersamaan dengan perubahan sungai Situ Kamojing yang tidak lagi berair bersih, jernih dan telah berubah dangkal. Ni Icih maupun Ki Amo telah tiada. Si Buntung, buaya keturunan manusia tidak lagi menghuni Situ Kamojing. Menurut informasi keluarganya yang masih dekat, si buntung pindah tempat dan menghuni salah satu sungai di Citarum..Entah masih ada atau tidak. Kisah ini disusun hanya untuk memperkaya khazanah budaya yang berkembang dimasyarakat dan dari legenda rakyat ini pula diharapkan dapat menyimak manfaat segi positifnya, bahwa takabur atau sombong merupakan perbuatan yang tidak baik. Seperti halnya Ni Icih yang pernah mengatakan ; ingin hamil dan punya anak, biar anak buaya juga.Ternyata Allah SWT benar-benar maha mengetahui, Maha Mendengar dan Maha Melihat tingkah laku ummat – Nya.Dan berhati-hatilah ketika berucap, karna salaamatul insan fii hifdzil lisaan, Wallaahua’lam..created by Istiqomah Salamah(goffar.istie@gmail.com).

No comments:

Post a Comment